Contoh Best practice Guru bahasa inggris SMP

Best Practice dibuat sesuai dengan pengalaman terbaik pendidik. Tujuannya tentu memperbaiki mutu pendidikan. Perlu diketahui bahwa PTK dan Best Practice Berbeda.

Tapi keduanya Bisa digunakan Untuk Dokumen pendukung Kenaikan Pangkat Guru Pegawai Negeri Sipil.

Oke, Sesuai dengan judul postingan yang kita bahas adalah best practice mata pelajaran bahasa inggris SMP.

Memang banyak guru yang membuka web saya di google contoh best practice ini. Ya memang saat ini pelaksanaan diklat PKP masih berjalan di beberapa daerah. Walaupun daerah lain sudah mulai melaksanakan Post test .

best practice guru bahasa inggris smp

Pertama-tama seorang guru harus membuat best practice ini benar-benar berdasarkan dari pengalaman terbaik misalnya melaksanakan kegiatan pembelajaran abad 21 di kelas.

Contoh yang saya kirim ini hanyalah referensi saja. Mengapa ? karena judul best practice dan materi harus disesuaikan dengan pengalaman anda.

Inilah referensi singkat mengenai best practice guru mata pelajaran SMP kelas 9 dengan judul "Peningkatan Kualitas Pembelajaran Report Text menggunakan Model Discovery Learning yang Berorientasi HOTS". Khusus Mata pelajaran matematika, IPA, IPS, Prakarya maupun mapel lain belum tersedia.

1. Contoh Cover best practice
gambar cover best practice bahasa inggris

2. Contoh Biodata Penulis best practice

3. Contoh Kata Pengantar best practice

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala Puji syukur bagi Allah atas segala Rahmat dan kasih syang-Nya, yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Best Practice dengan Judul “Pembelajaran Teks Report Melalui Pendekatan Sientifik dengan Model Discovery Learning Di SMPN ….Tahun Pelajaran 2019-2020”.

Best Practice ini disusun dalam rangka melengkapi LK-9 PKP Guru 2019.

Dalam penyusunan Best Practice ini penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten/kota …

2. Kepala SMPN, yang telah memberi izin kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini seluas-luasnya.

3. Fasilitator atau Guru Inti, …, yang telah memberikan bantuan selama proses penelitian sampai dengan terwuud dalam bentuk Best Practice.

4. Semua Rekan guru di SMP …, yang telah memberikan bantuan penulisan best practice.

5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah memberikan bantuan berupa apapun dalam menyelesaikan best practice.

Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena ituu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan karya ini.


4. Contoh BAB 1 best practice

BAB I

A.Latar belakang

Pendidikan hendaknya mampu menghasilkan individu yang mampu menghadapi tantangan abad ke-21. Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 ditegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Supriano, menyatakan bahwa kunci proses pembelajaran yang baik dan benar di sektor pendidikan adalah peran para guru, dalam Nur Rahayu, Risna (2019).

Selama ini program pengembangan kompetensi guru berdasarkan hasil uji kompetensi, yang lebih memfokuskan pada peningkatan kompetensi guru terutama dalam kompetensi pedagogi dan profesional. Namun seiring meningkatnya tantangan peningkatan mutu pendidikan, perlu dilakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan guru yang bermuara pada hasil peserta didik.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas siswa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Ditjen GTK menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP). “Program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher OrderThinking Skills/HOTS),Menurut Supriano dalam Nur Rahayu,Risna(2019).

Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan, pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD, atau musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) SMP/SMA/SMK, dan musyawarah guru bimbingan dan konseling (MGBK), yang selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon, dapat terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan guru. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilairata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.

Komunitas guru dan tenaga kependidikan (PKG/KKG/MGMP/MGBK) memegang peranan penting dalam keberhasilan program ini. Di antara peran tersebut adalah melakukan pendataan terhadap anggota komunitasnya. Pendataan ini penting karena komunitas juga berperan dalam mengkoordinasikan dan melaksanakan program PKP Berbasis Zonasi di kelompok kerja masing-masing.

Supriano melanjutkan, begitu dominannya peran komunitas guru dan tenaga kependidikan pada program PKP Berbasis Zonasi ini, menuntut seluruh guru terdaftar dan terlibat aktif di komunitas sesuai jenjang masing-masing. “Komunitas merupakan ujung tombak wadah untuk berbagi dan mencari solusi mengenai masalah-masalah pendidikan yang dihadapi guru di daerah masing-masing. Program PKP Berbasis Zonasi ini diharapkan dapat menghidupkan dan menggairahkan kegiatan-kegiatan komunitas dengan lebih bersemangat. Melalui PKG/KKG/MGMP/MGBK, pemerataan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia diharapkan dapat segera tercapai,” Supriano. Dalam Nur Rahayu,Risna (2019).

Oleh karena itulah pentingnya PKP untuk meningkatkan kualitas pendididkan melalui hasil belajar peserta didik, terutama pada materi teks yang sangat sulit untuk di pahami oleh peserta didik. Salah satu materi teks itu adalah Report Text. Disini juga akan membahas tentang Pembelajaran Report teks dengan menggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning,, dengan berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi(Higher Order Thingking Skills/HOTS).

Pembelajaran repot teks yyang berorientasi pada HOTS, dengan tujuan pembelajaran peserta didik dapat menuliskan dan berbicara dengan mempresentasikan di depan kelas. Pembelajaran Repot teks ini menggunakan Model Discovery learning.

Dengan memilki keterampilan berbahasa lisan yang baik peserta didik akan mampu berkomunikasi dan mengungkapkan ide atau gagasan kepada orang lain. Hal ini sangat diperlukan untuk memudahkan berinteraksi baik di dalam maupun di luar kelas. Seperti yang diungkapkan oleh Supriyadi, (2005:179) bahwa keterampilan berbicara penting dikuasai peserta didik agar mampu mengembangkan kemampuan berpikir, membaca, menulis, dan menyimak. Kemampuan berpikir mereka akan terlatih ketika mereka mengorganisasikan, mengonsepkan, mengklarifikasikan, dan menyederhanakan pikiran, perasaan, dan ide kepada orang lain secara lisan.

Juga dalam hal menulis sangat penting, dalam bahasa Inggris Kemampuan menulis yang baik tidak di dapatkan dalam salah satu kali menulis. Oleh karena itu peserta didik dibiasakan untuk berlatih menulis terutama jika menulis bukan dengan bahasa ibu. Juga menulis merupakan salah satu indikator pencapaian kompetensi.

Untuk meningkatkan hasil belajar diperlukan penerapan metode pembelajaran yang interaktif, menarik, di mana guru lebih banyak memberikan peran kepada para peserta didik sebagai subjek belajar, dan lebih mengutamakan proses dari pada hasil. Selain itu, diperlukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan peserta didik secara aktif, baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan pengamatan penulis, masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran ini karena adanya rasa rakut, rasa tidak percaya diri dan perasaan tertekan yang menjadikan alasan peserta didik takut untuk menulis dan berbicara pada saat pembelajaran teks, termasuk teks repot.

Dengan adanya Pengembangan Pembelajaran berorientasi HOTS maka Pembelajaran teks repot berorientasi HOTS dengan menggunakan Model Discovery Learning.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 58 tahun 2014 tentang Kurkulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Bab IV tentang desain pembelajaran poin a pada Rancangan Pembelajaran disebutkan bahwa pada implementasi Kurikulum 2013 sangat disarankan agar guru menggunakan model-model pembelajaran inquiry based learning, discovery learning, project based learning dan problem based learning. Pada setiap model tersebut dapat dikembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan (2014: 554).

Selanjutnya pada proses pembelajaran karakteristik penguatannya mencakup: a) menggunakan pendekatan scientific melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan dengan tetap memperhatikan karakteristik siswa, b) menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembelajaran untuk semua mata pelajaran, c) menuntun siswa untuk mencari tahu, bukan diberitahu (discovery learning), dan d) menekankan kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi, pembawa pengetahuan dan berpikir logis, sistematis, dan kreatif (Depdikbud, 2014:13).

Dalam menerapkan kurikulum 2013, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sangat menyarankan model Discovery Learning untuk mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan. Hal tersebut ditandaskan lagi dalam penguatan proses pembelajaran, siswa diarahkan untuk mencari tahu ( discovery) bukan diberi tahu.

Guru Bahasa Inggris banyak yang belum memiliki gambaran yang jelas tentang penerapan discovery learning tersebut dalam pembelajaran di kelas mereka. Siswa didik yang berada di bangku SMP berada pada masa adolocent (remaja) yang telah mulai bisa menguasi kalima-kalimat yang lebih kompleks daripada sekadar bentuk-bentuk kata kerja bentuk kedua yang ditambah -ed, misalnya. Namun mereka juga belum mampu menguasi bahasa yang sangat kompleks. Untuk itu mereka perlu pembelajaran yang bertahap melalui kegiatan-kegiatan komunikatif dengan menggunakan bahasa target secara murni dan spontan.

Untuk mengatasi hal tersebut, model Discovery Learning, yang mengarahkan siswa untuk berinteraksi, mencari jawaban atas suatu pertanyaan dengan cara berkolaborasi diharapkan sesuai dengan tahapan usia siswa pada tingkat SMP tersebut. Hal yang perlu tetap diperhatikan adalah esensi pembelajaran Bahasa sebagai alat komunikasi. Sehingga kegiatan dalam Discovery Learning harus mengakomodasi kebutuhan siswa menggunakan Bahasa sebagai alat komunikasi, bukan mempelajari kebahasaan itu sendiri.

Bertolak dari latar belakang tersebut, jelaslah bahwa dalam proses pembelajaran siswa dituntut untuk mencari tahu, bukan diberitahu. Sehingga model yang relevan adalah Discovery Learning. Pada praktik mengajar yang dilakukan, sangat sedikit guru yang menerapkan model tersebut di dalam pembelajaran. Menurut mereka, dalam pembelajaran Bahasa Inggris, model ini masih terasa asing dan hampir belum pernah dilakukan sebelumnya, sehingga sulit mendapatkan konsep yang tepat dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran dengan discovery learning tersebut.

Berbagai upaya telah di lakukan oleh penulis yang mana juga menjadi tanggung jawabnya sebagai guru mata pelajaran bahasa inggris untuk membimbing peserta didik menjadi berprestasi di bidangnya.

B.Jenis Kegiatan

Adapun jenis kegiatan pada best practice ini adalah kegiatan pembelajaran report tekt menggunakan model pembelaaran Discovery Learning yang berorientasi HOTS yang telah terbukti membuat proses pembelajaran di kelas IX menjadi lebih baik.

Manfaat Kegiatan

Manfaat yang didapatkan dari pelatihan program PKP dan penerapan di sekolah adalah:

1. Bagi Pes e rta Didik kelas

1. Siswa menjadi lebih siap untuk belajar bahasa asing khususnya Bahasa inggris melalui kegiatan pembelajaran Report Teks dengan menggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning berorientasi pada keterampilan HOTS.

2. Dengan Menggunakan strategi model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap pembelajaran text khususnya teks report.


5. Contoh BAB 2 best practice

BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN

A.Tujuan dan Sasaran

1.Tujuan

Adapun Tujuan penulisan best practice ini adalah untuk mendescripksikan best practice penulis dalam Penerapan Pembelajaran berorientasi pada keterempilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skills/HOTS), dengan menggunakan Model Discovery learning pada peserta didik kelas IX SMPN 3 Rambang Dangku, adalah:

a. Untuk mengetahui apakah dengan menggunakan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dengan menggunakan model Discovery Learning peserta didik dapat mengidentifikasi dan mengnalisis teks repot dengan tulisan dan lisan, atau menulis dan berbicara, sehingga menghasilkan hasil belajar peserta didik yang baik.

b. Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik pada materi teks, terutama materi Report text.

c. Untuk meningkatkan kompetensi peserta didik dalam pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skills/HOTS).

d. Untuk mewujudkan kualitas pendidikan untuk semua peserta didik.

e. Untuk mengetahui bagaimana respon peserta didik dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui hasil belajar.

2.Sasaran

Adapun sasaran penulis adalah peserta didik kelas IX SMP Negeri 3 Rambang Dangku, tahun pelajaran 2019-2020, sebanyak 23 Orang.

B.Bahan dan Materi Kegiatan

Bahan yang digunakan dalam best practice pembelajaran ini adalah materi Report tekt, kelas XI dengan menggunakan model Pembelajaran discovery learning. Adapun Kompetensi Dasarnya adalah sebagai berikut :


Selengkapnya silahkan download doc best practice bahasa inggris SMP melalui TAUTAN INI. (file lengkap chat wa ke 085273216532)

0 Response to "Contoh Best practice Guru bahasa inggris SMP"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel